Semangat Pemersatu

Semangat Pemersatu
Ilmu Ekonomi - EKP

Minggu, 23 Oktober 2011

Penduduk Miskin di Aceh Tahun 2011

          Persentase penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di Aceh pada tahun 2011 sebesar 19,57 persen. Angka ini menurun dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebesar 20,98 persen. Penurunan persentase penduduk miskin tersebut terjadi di daerah perkotaan dan perdesaan.
          Pada periode 2010 - 2011, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan menurun. Ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit.
          
Catatan Akhir Tahun 2010

          Aceh merupakan provinsi yang kaya dengan sumber daya alam, baik dalam bentuk minyak dan gas bumi, perkebunan, pertanian, kelautan, dan sebagainya. Namun, kenyataan yang ada menunjukkan bahwa perekonomian daerah ini secara sistematis tumbuh lebih lambat dibandingkan provinsi-provinsi lain di Indonesia. Hal ini lebih disebabkan karena konflik bersenjata yang berlangsung dalam waktu lama di wilayah ini.
         Konflik telah menyebabkan roda-roda ekonomi tidak berjalan, investasi tidak ada, kegiatan produktif masyarakat dalam berbagai sektor seperti mati suri, dan sebagainya. Dalam kondisi ekonomi Aceh yang demikian, pembangunan sosial dalam segala bidang menjadi terkendala yang berdampak pada semakin memburuknya kondisi kehidupan dan kesejahteraan masyarakat Aceh secara keseluruhan.
          Angka kemiskinan meningkat di hampir seluruh provinsi di Indonesia akibat krisis keuangan pada tahun 1997, akan tetapi pada tahun 2002 angka tersebut telah turun hampir ke tingkat sebelum terjadinya krisis. Aceh merupakan satu-satunya provinsi dengan angka kemiskinan yang terus meningkat setelah tahun 2000, seiring konflik Aceh memasuki tahap ketiga dan merupakan tahap paling brutal yang telah mengubah Aceh menjadi salah satu provinsi termiskin di Indonesia. Dalam kondisi konflik dan peperangan yang demikian brutal, secara langsung pembangunan ekonomi dan sosial tidak berjalan di Aceh.
          Kebijakan desentralisasi dan otonomi khusus yang diterapkan oleh pemerintah pusat terhadap Aceh sejak tahun 1999 secara sangat signifikan telah meningkatkan sumber daya fiskal dalam bentuk jumlah anggaran yang dikelola langsung oleh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota Aceh. Bahkan setelah terjadinya bencana tsunami 26 Desember 2004, provinsi Aceh menerima bantuan dari pemerintah Indonesia dan dunia internasional dalam jumlah yang luar biasa besarnya . Pada tahun 2006, total dana yang mengalir ke Aceh diperkirakan sebesar Rp. 28,5 triliun (US$ 3,1 milyar), yang sebagian besar diperuntukkan untuk program rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh. Dana tersebut umumnya dikelola oleh BRR dan berbagai lembaga internasional.
          Akan tetapi, tambahan Dana Otonomi Khusus tersebut akan dihapuskan secara bertahap setelah 20 tahun. Oleh karena itu, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Aceh perlu mengembangkan suatu strategi untuk mengelola dan mengalokasikan pendapatan tambahan tersebut secara baik dan berkesinambungan untuk memperbaiki infrastruktur dan meningkatkan pelayanan publik, serta meningkatkan pembangunan ekonomi di daerah.
          
Strategi Pengurangan Kemiskinan

          Kemiskinan adalah isu besar yang ada di Aceh pasca konflik dan tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004. Kemiskinan di Aceh sudah terjadi jauh hari sebelum tsunami, gempa dan namun tsunami pada akhir tahun 2004 tersebut membuat kondisi dan tingkat kemiskinan menjadi semakin parah. Jumlah penduduk miskin di Aceh berdasarkan hasil Susenas BPS 2007 mencapai 1.083.600 jiwa atau 26,5% dari jumlah penduduk. Angka kemiskinan tersebut masih berada diatas rata-rata jumlah penduduk miskin Indonesia saat ini, yaitu sebesar 16,58%. Sementara kalau kita lihat data-data kemiskinan beberapa tahun ke belakang, Nampak bahwa ada kemajuan penurunan angka kemiskinan tersebut. Misalnya sebelum tsunami dan masih dalam kondisi konflik bersenjata di Aceh yaitu tahun 2004, tingkat kemiskinan mencapai 28,5%. Pasca tsunami pada tahun 2005, angka kemiskinan tersebut meningkat menjadi 32,5,7% dan turun menjadi 28,3% tahun 2006, serta terus turun menjadi 26,5% tahun 2007. Data terakhir tahun 2010 yang dikeluarkan BPS menempatkan Aceh di peringkat ketujuh termiskin dari 33 provinsi di Indonesia, dengan angka kemiskinan tahun 2010 sebesar 20,98%.
         Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJM) Aceh tahun 2007 – 2012, strategi pengentasan kemiskinan menjadi bagian dari kebijakan pembangunan ekonomi secara keseluruhan di Aceh. Dalam RPJM Aceh tersebut disebutkan bahwa salah satu strategi yang digunakan adalah melalui proses peningkatkan kesempatan kerja dan peluang usaha dalam upaya penanggulangan kemiskinan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan dapat terdistribusi secara lebih merata. Disamping itu, pemerintah Aceh juga akan mendorong peningkatan partisipasi masyarakat untuk memberdayakan dan kemandirian dalam peningkatan kesejahteraan, serta bagaimana melakukan penguatan kapasitas Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi (UMKMK).
         
Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat 

          Mengutip definisi yang dikemukakan oleh UNDP, Empowerment (pemberdayaan/penguatan) dianggap sebagai sebuah proses yang memungkinkan kalangan individual ataupun kelompok merubah keseimbangan kekuasaan dalam segi sosial, ekonomi maupun politik pada sebuah masyarakat ataupun komunitas. Dari jenisnya, pemberdayaan/penguatan dapat dilihat pada dua level, yaitu individual dan komunitas. Pada tataran individual, isu-isu yang relevan dengan pemberdayaan adalah: hubungan patron-klien, gender, akses ke pemerintahan (negara), dan sumber-sumber kepemilikan properti. Sementara pada tataran komunitas, isu-isu utama yang biasa diangkat adalah: mobilisasi sumberdaya (resources mobilization), pemberdayaan/penguatan kerangka institusional dan akses hubungan (linkages) dengan badan-badan pemerintah.
              Secara operasional pemberdayaan ekonomi didefinisikan sebagai usaha untuk menjadikan ekonomi yang kuat, besar, modern, dan berdaya saing tinggi dalam mekanisme pasar yang benar. Karena kendala pengembangan ekonomi rakyat adalah kendala struktural, maka pemberdayaan ekonomi rakyat harus dilakukan melalui perubahan struktural. Perubahan struktural yang dimaksud adalah perubahan dari ekonomi tradisional ke ekonomi modern, dari ekonomi lemah ke ekonomi kuat, dari ekonomi subsisten ke ekonomi pasar, dari ketergantungan ke kemandirian. Langkah-langkah proses perubahan struktur, meliputi: (1) pengalokasian sumber pemberdayaan sumberdaya; (2) penguatan kelembagaan; (3) penguasaan teknologi; dan (4) pemberdayaan sumberdaya manusia.

Kamis, 13 Oktober 2011

Data Penduduk Desa Lamgugob - Banda Aceh

          Berdasarkan data riil dari kecamatan setempat, Jumlah kepala keluarga di desa tersebut berjumlah 211 KK dan jumlah penduduknya sekitar 2812 jiwa. tetapi sangatlah miris ketika menerima laporan dari 211 kepala keluarga tersebut, 150 diantaranya bergolongan menengah kebawah atau berpenghasilan rata-rata dibawah Rp. 900.000. Adapun data-data deskriptifnya sebagai berikut;
  • Dibedakan Menurut Golongan dan Pendapatan
       Berdasarkan data  yang dimiliki desa tersebut, golongan terbagi menjadi 3 (tiga); Tidak Miskin ( pendapatan lebih dari Rp.900.000/bulan), Miskin ( pendapatan antara Rp.450.000 dan Rp.900.000/bulan), Fakir (pendapatan kurang dari Rp.450.000). Jumlah dari Golongan "tidak miskin" itu sendiri berjumlah 19 kepala keluarga, golongan "miskin" berjumlah 51 kepala keluarga, dan sisanya bergolongan " fakir" yang berjumlah 80 kepala keluarga.
  • Fokus Pekerjaan Warga dari Golongan tersebut
          Ada 8 pekerjaan umum yang dilakukan oleh warga setempat, yaitu; perdagangan & jasa, (69 KK) industri/kerajinan (4 KK), pertanian (3 KK), peternakan ( 1 KK), perikanan ( 1 KK), Angkutan ( 6 KK), Kuli Bangunan ( 19 KK), selebihnya pekerjaan lain-lainnya (19 KK), dan sisanya adalah pengagguran ( 28 KK).
  • Fasilitas Desa Lamgugop
          Fasilitas pendidikan; 5 SDN, 1 SDS, dan 1 Madrasah Swasta. Fasilitas Kesehatan; 1 Pos Yandu dan Puskesmas, dll.
  • Bantuan dari Pemerintah Kota
      Ada beberapa bantuan yang diberikan ke desa tersebut, seperti; PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat ), dan ADG (Alokasi Dana Gampong), Masing-masing Rp. 10 juta untuk PNPM, dan Rp. 3 juta.
          Alokasi dana yang dihibahkan pemerintah kota semuanya disalurkan dan digunakan dengan baik oleh perangkat desa serta meningkatkan sanitasi dan pemberdayaan terhadap masyarakat oleh pemerintahan desa.

NOTE:
Tidak Miskin    : Penduduk yang relatif mampu menopang hidupnya dan keluarganya dalam sehari penuh
Miskin             : miskin berarti orang yang memiliki penghasilan tetapi tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarganya.
Fakir               : orang yang penghasilannya tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok (primer) sesuai dengan kebiasaan masyarakat tertentu.

Sabtu, 08 Oktober 2011

Apa itu Micro Finance?

       
          Untuk menanggapi permintaan dari kalangan menengah kebawah pada negara berkembang. Namun pada tahun 70-an, produk dan metodeloginya mulai dikembangkan yang sekarang dikenal dengan "microfinance". Adapun jasa yang diberikan oleh "microfinance" itu sendiri berupa simpan - pinjam, asuransi, dan mentransfer uang. Dari semua itu adalah tujuan daripada "microfinance" ini sendiri.
          Umumnya studi ini diterima sebagai alat yang sangat luar biasa bagi ekonomi pembangunan. Institusi keuangan mikro ini melayani masyarakat miskin dan masyarakat yang pendapatannya rendah.
          Biasanya pelanggan yang datang kemari adalah masyarakat kurang mampu yang mengambil keuntungan serta kemudahan untuk menunjang bisnis mereka. Yang membuat institusi keuangan mikro ini berbeda dari institusi-institusi lainnya ialah, institusi keuangan ini memiliki gagasan dalam pengembangan kondisi dengan melihat sisi dari pendapatan si peminjam.
          Jadi sudah jelaslah mengapa lembaga Keuangan Mikro ini dianggap sebagai "tool" atau "alat" sebagai pembangunan perekonomian pada negara berkembang.

1. Microcredit (Kredit Mikro)

Microcredit merupakan kredit kecil yang diberikan kepada klien dari bank maupun lembaga keuangan lainnya. Microcredit dapat ditawarkan tanpa jaminan kepada perorangan maupun kelompok.

2. Kredit Mikro dan Keuangan Mikro

Sering kali penggunaan istilah ini salah. Kurangnya penjelasan tentang kegunaannya, bahkan di sektor pembangunan, adalah suatu alasan dimana hal ini harus dibedakan sejak awal.
          Dimana Kredit Mikro merupakan bagian dari bidang keuangan mikro. Kredit Mikro merupakan layanan terhadap pengusaha yang pendapatannya rendah. Sementara, Keuangan Mikro mencakup kedalam kredit, tabungan dan jasa keuangan  seperti asuransi dan uang transfer.

3. Siapakah Klien dari Keuangan Mikro?

Klien dari keuangan mikro adalah "aktif secara ekonomis miskin" atau orang-orang berpenghasilan rendah
yang tidak memiliki akses ke lembaga keuangan formal.
Klien harus memiliki peluang ekonomi dan keterampilan kewirausahaan sebagai uang yang mereka terima tidak harus digunakan untuk konsumsi, tetapi untuk tujuan produktif.

4. Keuangan Mikro dan Rentenir

Pada rentenir biasanya, kepentingan biaya hampir selalu jauh melebihi apa yang dibebankan oleh LKM (Lembaga Keuangan Mikro) dan para peminjamnya tidak memiliki jenis perlindungan dari penyalahgunaan
perilakukasarnya penarikan pinjaman atau praktek pinjaman tidak adil.


5. Keberlanjutan Keuangan 

Untuk menjalankan usaha, lembaga keuangan dan pada umumnya semua perusahaan, pastilah sangat memerlukan dana. Ini dapat muncul dalam beberapa cara berbeda: mereka dapat menerbitkan saham (apa yang secara teknis disebut ekuitas) atau akses apa yang disebut pembiayaan utang, yang biasanya dalam bentuk obligasi dan pinjaman dari lembaga keuangan lainnya. Kemudian bank dapat mengumpulkan tabungan dari klien mereka. Sumber penambahan dapat berasal dari sumbangan, hibah maupun pinjaman lunak (kredit di bawah harga pasar).

Selasa, 04 Oktober 2011

Micro Finance - Hasil Penjualan "Handycraft" selama seminggu

Pembuktian minat masyarakat terhadap produk kerajinan tangan akhir-akhir ini sangat diminati dan disenangi. Buktinya hal ini saya rasakan sendiri sebagai penjual barang-barang kerajinan tangan yang diproduksi oleh industri kecil (seperti rumah tangga).

Sebagai pengrajin dan penjual, kita terlebih dahulu harus mengetahui pangsa pasar yang akan kita geluti. Sebaiknya pasar yang seperti apa dan bagaimana. Hal ini dimaksudkan agar penjual tidak memproduksi barangnya dengan sia-sia.

Untuk penjualan "handycraft" ini sendiri saya lebih memilih pasar siswa dan mahasiswa. Karena modelnya yang lucu dan unik, mampu menarik hati pembeli yang biasanya dipakai sebagai hiasan dan gantungan.

Untuk Penjualannya sendiri, kita bisa langsung membawanya kekampus atau kepasar yang dikehendaki dengan cara barang yang akan dijual sebaiknya dikemas terlebih dahulu agal terlihat rapih dan indah. hal ini ditujukan supaya pembeli merasakan utilitas atau kepuasan serta manfaat yang lebih tinggi karena barang yang kita produksi sudah memiliki nilai yang lebih dibandingkan sebelum dikemas dengan baik. Selanjutnya penawaran dan harga yang kita berikan janganlah terlampau tinggi sesuai dengan keadaan pasar dimana kita menjual barang tersebut.

Adapun keuntungan yang saya raup dari penjualan 2 hari adalah sebesar Rp. 225.000. Dimana modal utama dari penjualan ini adalah kemauan dan usaha.  Sedangkan modal aslinya adalah sebesar Rp. 10.000, saja.

Cara bagaimana itu semua bisa terjadi adalah dengan cara "recycle of money", dimana dengan modal sebesar itu kita hanya mendapatkan 3 unit barang saja. Hal ini tercapai karena uang hasil penjualan langsung saya tetapkan sebagai modal atas tambahan barang yang akan digunakan untuk mencapai profitabilitas yang tinggi dikemudian harinya. 3 unit barang harganya Rp. 10.000. Dan saya menjual per unitnya Rp. 7.000, dan Rp.10.000. Untung dari penjualan tersebut langsung dijadikan kembali sebagai modal usaha.

Kesan yang didapatkan selama penjualan antara lain; mengetahui bagaimana teknik berjualan yang baik dan efisien, mendapatkan relasi atau rekan kerja baru, serta bisa dengan mudah membaca peluang pasar.