Provinsi NAD menempati peringkat ke-7 dengan persentase angka kemiskinan mencapai 20,98 persen. Tingkat kemiskinan di Aceh masih lebih tinggi dibanding Bangka Belitung yang sebesar 18,94 persen, Gorontalo (18,70 persen), dan Sumatera Selatan 18,30 persen. Data dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 juga menunjukkan bahwa dari 183 kabupaten di Indonesia, Provinsi Papua memiliki kabupaten daerah tertinggal terbanyak, yakni 27 kabupaten.
Angka kemiskinan itu muncul disebabkan adanya faktor aktifitas masyarakat tidak jalan, lahan usaha tidak ada. Berdasarkan hasil Survey sosial nasional (Susenas) menyatakan penduduk miskin di Indonesia meningkat. Demikian juga peningkatan penduduk miskin didaerah jelas meningkat.
Namun, ada juga faktor-faktor lain yang disebabkan oleh bencana alam sendiri, contoh tsunami. mereka yang selamat dari tsunami tentunya akan mengulang hidup nya dari angka 0 lagi dan berusaha memenuhi kebutuhan mutlak mereka sehari-hari dengan usaha yang didapatnya. Untuk membenahi semua, masyarakat yang timbul saat ini, untuk bekerja dibarengi modal kerja belum ada
Menurutnya, faktor yang paling mendukung di Aceh akibat lonjakan penduduk miskin dikarenakan faktor ekonomi masyarakat tidak jalan. Dan lahan usaha tidak ada, sehingga tidak bisa menjalankan dengan lancar.
Pemerintah Provinsi Aceh memprediksi angka kemiskinan di Aceh pada 2011 ini turun hingga 969.353 jiwa atau 19,57 persen dari angka dicapai tahun sebelumnya, menyusul peningkatan pembangunan dilakukannya.
Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengklaim, sejak 2006 hingga 2010 angka kemiskinan di Provinsi itu terus menurun, menyusul membaiknya situasi keamanan dan kondisi perekonomian masyarakat. "Dari 2006 sampai 2010 terus menunjukkan grafik menurun setiap tahunnya," kata dia di Banda Aceh, Rabu (23/11/2011).
Pada 2006, lanjut Irwandi, penduduk miskin di Aceh sebanyak 1.112.061 jiwa atau mencapai 26,66 persen, sedangkan pada 2010 turun menjadi 1.088.368 jiwa (21,98 persen). "Dan menurut BPS, pada 2011 diprediksi turun menjadi 969.353 jiwa atau 19,57 persen," sebutnya.
Berdasarkan data kependudukan jumlah penduduk Aceh hingga Mei 2011 mencapai 4.953.262 jiwa atau mengalami pertumbuhan sebesar 11,59 persen dari jumlah penduduk pada 2007. Menurut Irwandi pengeluaran ril per kapita penduduk Aceh kini menjadi 611.420 per bulan.
Provinsi Aceh pada tahun anggaran 2012 kembali mendapatkan dana cukup besar. Jumlah total APBN tahun depan yang dialokasikan pemerintah pusat untuk pemerintah provinsi/kabupaten/kota se-Aceh dan lembaga vertikal sebesar Rp27,477 triliun.
Dana itu terdiri dari Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) tahun 2012 Rp8,280 triliun dan dana transfer daerah sebesar Rp19,196 triliun. DIPA untuk Aceh ini akan diterima 41 departemen/badan vertikal, sedangkan dana transfer daerah diterima 23 kabupaten/kota plus provinsi.
Gubernur Aceh Irwandi Yusuf menyerahkan DIPA dana transfer daerah tahun 2012 tersebut kepada para kuasa pengguna anggaran instansi vertikal dan para bupati/walikota se-Aceh di Aula Gedung Serba Guna Kantor Gubernur, Jumat (23/12)
DIPA terdiri dari dana dekonsentrasi senilai Rp699,1 miliar, tugas perbantuan Rp625,9 miliar, kantor daerah Rp4,169 triliun, kantor pusat Rp2,213 triliun dan urusan bersama Rp572,5 miliar.
Penyerahan DIPA secara simbolis dilakukan gubernur kepada 10 Satuan Kerja (Satker) seperti Kodam Iskandar Muda (IM) sebesar Rp764,6 miliar, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Rp318,4 miliar, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh Rp36,216 miliar, Polda Aceh Rp13,568 miliar, BPM Desa Kabupaten Pidie Rp55,162 miliar, BPM Kabupaten Pidie Jaya Rp27,363 miliar, BPM Kabupaten Aceh Besar Rp40 miliar, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh Rp19,871 miliar, Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Provinsi Aceh Rp7,390 miliar dan Pembangunan Infrastruktur Permukiman Kota Banda Aceh Rp4,987 miliar. "Sebagai wakil pemerintah di Aceh, hari ini, saya menyerahkan DIPA tahun 2012. Penyerahan DIPA kali ini dapat dilaksanakan lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun ini penyerahan DIPA dapat dilaksanakan akhir tahun anggaran 2011, sebelum tahun anggaran 2012 dimulai," ujar Irwandi Yusuf.
Alokasi dana yang ditransfer pemerintah pusat ke Provinsi Aceh dan seluruh kabupaten/kota pada tahun anggaran 2012, berjumlah Rp19,1 triliun lebih. Angka ini naik signifikan dibandingkan penerimaan tahun 2011 yang hanya Rp15,2 triliun.
Dana transfer tersebut meliputi dana alokasi umum (DAU), dana alokasi khusus (DAK), dan dana otonomi khusus (Otsus). DAU Aceh tahun 2012 mencapai Rp10,2 triliun, sedangkan tahun 2011 Rp8,4 triliun. DAK Aceh 2012 senilai Rp932,0 miliar, sedangkan tahun 2011 Rp912,6 miliar. Dana Otsus Aceh tahun 2012 juga naik. Pada 2011 hanya Rp4,5 triliun, sekarang naik menjadi Rp5,4 triliun.
Pada tahun 2012, dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) yang dialokasikan ke Aceh berjumlah Rp 27,4 triliun lebih, terdiri dari Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Rp 8,2 triliun lebih serta dana transfer daerah yang terdiri dari dana bagi hasil pajak, dana bagi hasil sumber daya alam, dana alokasi umum (DAU), dana alokasi khusus (DAK), dana otonomi khusus (otsus), dan dana penyesuaian sebesar Rp 19,1 triliun lebih. "Saya berharap DIPA dan dana transfer daerah tersebut harus dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk meningkatkan kualitas belanja, dengan memastikan bahwa dana tersebut benar-benar dimanfaatkan untuk program dan kegiatan yang memiliki nilai tambah besar bagi masyarakat. Pemerintah sangat berkepentingan agar anggaran yang disediakan dapat diserap dengan baik melalui belanja yang efektif dan efisien," jelasnya.
Gubernur Irwandi juga mengingatkan para penerima anggaran, seperti yang pernah disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ke depan akan menghadapi tantangan besar, terutama di bidang ekonomi dan keuangan. Tantangan itu dikhawatirkan, tidak saja dapat mengganggu pencapaian tujuan pembangunan, tetapi juga dapat menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat. "Karena itu, saya berharap, agar seluruh Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA) dan satuan kerja instansi vertikal yang ada di Aceh agar dapat memaksimalkan penyerapan anggaran sehingga mampu memberikan multiplier effect terhadap perekonomian serta dapat menstimulasi pergerakan ekonomi di Aceh," harapnya.
Hal ini sungguh menyedihkan bagi provinsi aceh. Begitu banyak anggaran yang di keluar namun sedikit yang teralokasi bagi rakyat, sisanya untuk pekerjaan pemerintah. Walaupun begitu banyak program-program untuk membantu kesejahteraan rakyat, dalam realitasnya hal ini sulit di laksanakan.